Contoh Tinjauan Pustaka Skripsi tentang Filariasis (Kaki Gajah)

Contoh Tinjauan Pustaka Skripsi tentang Filariasis (Kaki Gajah)

Contoh Tinjauan Pustaka Skripsi Filariasis - Fahrinheit, Dalam membuat skripsi atau karya tulis tentu tidak lepas dengan yang namanya tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka ini merupakan bahasan yang mencakup semua variabel yang akan dibahas dalam skripsi. Jadi tinjauan pustaka ini mencakup semua definisi variabel secara gamblang dan jelas termasuk teori-teori yang mendukung terhadap pembuatan skripsi. Biasanya tinjauan pustaka ini merupakan lembar yang paling banyak karena mencakup definisi serta bahasan per variabel.

contoh-tinjauan-pustaka-skripsi-filariasis
Membuat tinjauan pustaka tentu tidaklah mudah karena semua harus berdasarkan sumber yang valid dan sudah teruji. Sumber dalam membuat tinjauan pustaka biasanya berasal dari buku, jurnal atau hasil penelitian orang lain yang terkait dengan variabel bahasan skripsi. Pembuatan tinjauan pustaka ini biasanya cukup membuat pusing karena harus mengumpulkan semua data-data beserta sumbernya

Pada kesempatan kali ini fahrinheit akan berbagi contoh tinjauan pustaka skripsi tentang filariasis atau kaki gajah. Contoh tinjauan pustaka ini berdasarkan pengalaman admin sendiri dalam membuat karya tulis dan skripsi dan insha Allah sudah terbukti kevalidan data dan sumbernya dalam membuatnya.

Tinjauan pustaka tentang filariasis / kaki gajah ini memang cukup sulit untuk ditemukan karena sangat sedikit sumber yang membahas masalah ini, jikalau ada pun biasanya berdasarkan buku lama yang masih belum update. Oleh karena itu fahrinheit akan membagikan tinjauan pustaka tentang filariasis ini untuk memudahkan anda yang sedang mengerjakan karya tulis atau skripsi tentang filariasis (kaki gajah). Langsung saja berikut ini contohnya :

TINJAUAN PUSTAKA TENTANG FILARIASIS


1. Definisi Filariasis

Filariasis ialah suatu infeksi sistemik yang disebabkan oleh cacing filarial yang  cacing dewasanya hidup dalam saluran limfe dan kelenjar limfe manusia dan ditularkan oleh serangga secara biologisc. (Soedarto, 1995: 66)

Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filarial dan ditularkan melalui vektor nyamuk yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening. Penyakit ini juga menyerang semua umur dan bersifat menahun. Penyakit ini dapat merusak limfe, menimbulkan pembengkakan pada tangan, kaki, glandula mammae dan scrotum, menimbulkan cacat seumur hidup serta stigma sosial bagi penderita dan keluarganya. Secara tidak langsung, penyakit yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk ini bisa berdampak pada penurunan produktivitas kerja penderita, beban keluarga dan menimbulkan kerugian ekonomi bagi negara yang tidak sedikit. (Depkes RI, 2009: 1)

2. Penyebab Filariasis

Filariasis di Indonesia disebabkan oleh 3 spesies cacing filarial yaitu:
a. Wucheria Bancrofti
b. Brugia Malayi
c. Brugia Timori

Secara umum daur hidup dari ketiga spesies cacing tersebut tidak berbeda. Daur hidup parasit terjadi di dalam tubuh manusia dan tubuh nyamuk. Cacing dewasa (disebut makrofilaria) hidup di dalam saluran kelenjar dan limfe, sedangkan anaknya (disebut mikrofilaria) ada di dalam sistem peredaran darah.

Mikrofilaria mempunyai periodesitas tertentu, yang artinya mikrofilaria berada di darah tepi pada waktu-waktu tertentu saja. Misalnya pada W. Bancrofti bersifat periodic nokturna, artinya mikrofilaria banyak terdapat di dalam darah tepi pada malam hari, sedangkan pada siang hari banyak terdapat di kapiler organ dalam seperti paru-paru, jantung dan ginjal.

Cacing filarial tersebut ditularkan melalui vektor nyamuk. Di Indonesia hingga saat ini telah teridentifikasi 23 spesies nyamuk dari 5 genus yaitu: Mansonia, Anopheles, Culex, Aedes dan Armigares yang menjadi vektor filariasis. Daerah endemis filariasis pada umumnya ialah daerah dataran rendah, terutama di pedesaan, pantai, pedalaman, persawahan, rawa-rawa dan hutan. Secara epidemiologi cacing filarial dibagi menjadi menjadi 6 tipe, yaitu:

a. Wucheria bancrofti tipe perkotaan (urban)
Ditemukan di daerah perkotaan dan memiliki periodisitas nokturna, ditularkan oleh nyamuk Culex quinquefasciatus yang berkembang biak di air limbah rumah tangga

b. Wucheria bancrofti tipe pedesaan (rural)
Ditemukan di daerah pedesaan dan memiliki periodesitas nokturna yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk Anopheles, Culex dan Aedes

c. Brugia malayi tipe periodic nokturna
Mikrofilaria ditemukan di daerah tepi pada malam hari. Nyamuk penular brugia malayi tipe periodic nocturna adalah Anopheles barbirostis yang ditemukan di daerah persawahan

d. Brugia malayi tipe subperiodic nokturna
Mikrofilaria ditemukan di darah tepi pada siang dan malam hari, tetapi lebih banyak ditemukan di malam hari. Nyamuk penularnya ialah Mansonia spp yang ditemukan di daerah rawa

e. Brugia malayi tipe non periodic
Mikrofilaria ditemukan di darah tepi baik malam maupun siang hari. Nyamuk penularnya adalah Mannsonia bonneae dan Mansonia uniformis yang ditemukan di hutan rimba

f. Brugia timori tipe periodic nokturna
Mikrofilaria ditemukan di daerah tepi pada malam hari. Nyamuk penularnya sama seperti burgia malayi nocturna, yaitu Anopheles barbirostis yang ditemukan di daerah persawahan.
(Depkes RI, 2009: 4)

3. Patogenesis Filariasis

Perkembangan klinis filariasis dipengaruhi oleh faktor kerentanan individu terhadap parasit, seringnya mendapat gigitan nyamuk, banyaknya larva infektif yang masuk ke dalam tubuh dan adanya infeksi sekunder oleh bakteri atau jamur. Secara umum perkembangan klinis filariasis dapat dibagi menjadi 2, yaitu fase dini dan fase lanjut. Pada fase dini timbul gejala klinis akut karena infeksi cacing dewasa bersama dengan infeksi oleh bakteri dan jamur. Pada fase lanjut terjadi kerusakan saluran dan kelenjar limfe, kerusakan katup saluran limfe, termasuk kerusakan saluran limfe kecil yang terdapat di kulit. Pada dasarnya perkembangan klinis filariasis tersebut disebabkan karena cacing filarial dewasa yang tinggal dalam saluran limfe menimbulkan pelebaran (dilatasi) saluran limfe bukan penyumbatan (obstruksi), sehingga terjadi gangguan fungsi sistem limfatik:

a. Penimbunan cairan limfe. Menyebabkan aliran limfe menjadi lambat dan tekanan hidrostatiknya meningkat, sehingga cairan limfe masuk ke jaringan menimbulkan edema jaringan. Adanya edema jaringan dapat meningkatkan kerentanan kulit terhadap infeksi bakteri dan jamur yang masuk melalui luka-luka kecil maupun besar. Keadaan ini dapat menimbulkan peradangan akut (acute attack)

b. Terganggunya pengangkutan bakteri dari kulit atau jaringan melalui saluran limfe ke kelenjar limfe. Akibatnya bakteri tidak dapat dihancurkan (fagositosis) oleh sel Reticulo Endothelial Sistem (RES), bahkan mudah berkembang biak dapat menimbulkan peradangan akut (acute attack)

c. Kelenjar limfe tidak dapat menyaring bakteri yang masuk ke dalam kulit. Sehingga bakteri mudah berkembang biak dapat menimbulkan peradangan akut (acute attack)

d. Infeksi bakteri berulang akan menyebabkan serangan akut berulang (recurrent acute attack) sehingga menimbulkan gejala klinis sebagai berikut:
1) Gejala peradangan local, berupa peradangan oleh cacing dewasa bersama-sama dengan bakteri, yaitu:
  • Limfangitis, peradangan di saluran limfe
  • Limfadenitis, peradangan di kelenjar limfe
  • Adeno limfangitis (ADL), peradangan saluran dan kelenjar limfe
  • Abses (lanjutan ADL)
  • Peradangan oleh spesies Wucheria Bancrofti di daerah genital (alat kelamin) dapat menimbulkan epididymitis, funikulitis dan orkitis
2) Gejala peradangan umum, berupa demam, sakit kepala, sakit otot, rasa lemah dan lain-lainnya

e. Kerusakan sistem limfatik, termasuk kerusakan saluran limfe kecil yang ada di kulit, menyebabkan menurunnya kemampuan untuk mengalirkan cairan limfe dari kulit dan jaringan ke kelenjar limfe sehingga dapat terjadi limfedema

f. Pada penderita limfedema, serangan akut berulang oleh bakteri atau jamur akan menyebabkan penebalan dan pengerasan kulit, hiperpigmentasi, hyperkeratosis dan peningkatan pembentukan jaringan ikat (fibrose tissue formation) sehingga terjadi peningkatan stadium limfedema, dimana pembengkakan semula yang terjadi hilang timbul (pitting) akan menjadi pembengkakan menetap (non pitting)
(Depkes RI, 2009: 2)

4. Gejala Klinis Filariasis

Gejala klinis filariasis terdiri dari gejala akut dan gejala kronis. Pada dasarnya gejala klinis filariasis yang disebabkan oleh W. Branchofti, B. Malayi dan B. Timori adalah sama, tetapi gejala klinis akut nampak lebih jelas dan berat pada B. Malayi dan B. Timori. Infeksi W. Branchofti dapat menyebabkan kelainan pada saluran kemih dan alat kelamin, tetapi infeksi oleh B. Malayi dan B. Timori biasanya tidak menimbulkan kelainan pada saluran kemih dan alat kelamin.

a. Gejala Klinis Akut
Gejala klinis akut kaki gajah ialah berupa limfadenitis, limfangitis, adenolimfangitis yang disertai demam, sakit kepala, rasa lemah dan timbulnya abses. Abses ini nantinya dapat pecah dan kemudian mengalami penyembuhan dengan meninggalkan parut, terutama di daerah lipat paha dan ketiak. Parut lebih sering terjadi pada infeksi B. Malayi dan B. Timori dibandingkan karena infeksi W. Bancrofti, demikian juga dengan timbulnya limfadenitis dan limfangitis, tetapi sebaliknya, pada infeksi W. Bancrofti sering terjadi peradangan pada buah pelir (orkitis), peradangan epididimus (epididymitis) dan peradangan pada funikulus spermatikus (funikulitis)

b. Gejala Klinis Kronis
Gejala kronis terdiri dari limfedema, limph srotum, kiluria, hidrokel,
a) Limfedema
Pada infeksi W. Bancrofti, terjadi pembengkakan seluruh kaki, seluruh lengan, skrotum, penis, vulva, vagina dan payudara, sedangkan pada infeksi Brugia, terjadi pembengkakan kaki di bawah lutut, lengan di bawah siku dimana siku dan lutut masih normal

b) Lymph Scrotum
Adalah pelebaran saluran limfe superfisial pada kulit skrotum, kadang-kadang pada kulit penis, sehingga saluran limfe tersebut mudah pecah dan cairan limfe mengalir keluar dan membasahi pakaian. Kulit juga akan mengalami lepuh (vesicles) besar dan kecil, yang dapat pecah dan membasahi pakaian. Ini mempunyai resiko tinggi terjadinya infeksi ulang oleh bakteri dan jamur, serangan akut berulang dan dapat berkembang menjadi limfedema scrotum. Ukuran scrotum kadang-kadang normal kadang-kadang sangat besar.

c) Kiluria
Adalah kebocoran atau pecahnya saluran limfe dan pembuluh darah di ginjal (pelvis renal) oleh cacing filarial dewasa spesies W. Bancrofti, sehingga cairan limfe dan darah masuk ke dalam saluran kemih. Gejala yang timbul adalah sebagai berikut:
  1. Air kencing seperti susu karena air kencing banyak mengandung lemak dan kadang-kadang bisa disertai darah (hematuria)
  2. Sukar kencing
  3. Kelelahan tubuh
  4. Kehilangan berat badan

d) Hidrokel
Adalah pelebaran kantung buah zakar karena tertumpuknya cairan limfe di dalam tunica vaginalis testis. Hidrokel dapat terjadi pada satu atau dua kantung buah zakar, dengan gambaran klinis dan epidimiologi sebagai berikut:
  1. Ukuran scrotum kadang-kadang normal tetapi kadang-kadang sangat besar sekali, sehingga penis tertarik dan bersembunyi
  2. Kulit pada skrotum normal, lunak dan halus
  3. Kadang-kadang akumulasi cairan limfe disertai dengan komplikasi dengan Chyle (Chylocele), darah (Haematocele) atau nanah (Pyocele). Uji transiluminasi bisa digunakan untuk membedakan hidrokel dengan komplikasi.
  4. Hidrokel banyak ditemukan di daerah endemis W. Bancrofti dan bisa digunakan sebagai indikator bahwa adanya infeksi W. Bancrofti.
(Depkes RI, 2009: 3)

5. Pencegahan Filariasis

Untuk mencegah/memberantas penyakit filariasis pemerintah telah melakukan gerakan eliminasi filariasis. Masyarakat diharapkan untuk berperan serta dengan cara:
a. Memeriksakan diri kepada petugas kesehatan jika kemungkinan adanya tanda dan gejala filariasis
b. Bersedia minum obat secara teratur sesuai dosis yang dianjurkan petugas kesehatan
c. Menghilangkan tempat perindukan nyamuk sehingga tidak memungkinkan perkembangan nyamuk melalui gerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk)
d. Berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk dengan cara:
  • Tidur memakai kelambu
  • Menutup lubang angin (ventilasi) rumah dengan kawat kasa halus
  • Membersihkan kandang ternak di sekitar rumah
  • Menggunakan obat anti nyamuk (bakar, oles, semprot)

6. Tatalaksana Kasus Klinis Filarisis

Tatalaksana kasus klinis filariasis terdiri dari pengobatan dan perawatan yang dikerjakan secara bersamaan untuk mendapatkan hasil yang optimal:

a. Pengobatan Kasus Klinis (Individual)
Pada semua kasus klinis filariasis di daerah endemis maupun non endemis diberikan DEC 3x1 tablet 100 mg selama 10 hari dan parasetamol 3x1 tablet 500 mg dalam 3 hari pertama untuk orang dewasa. Dosis anak disesuaikan dengan berat badan. Tetapi harus menjadi perhatian bahwa pada kasus klinis yang dengan gejala klinis akut dan kasus klinis kronis yang sedang mengalami serangan akut harus diobati terlebih dahulu gejala akutnya dengan obat-obatan simptomatik seperti obat demam, penghilang rasa sakit atau antibiotic apabila ada infeksi sekunder
  • Bila penderita berada di daerah endemis maka pada tahun berikutnya diikutsertakan dalam pengobatan massal dengan DEC, Albendazole dan Parasetamol sekali setahun minimal 5 tahun secara berturut-turut
  • Bila penderita berada di daerah non endemis pemberian DEC dengan dosis 3x100 mg selama 10 hari sudah cukup. Langkah selanjutnya adalah pembersihan dan perawatan diri

Sedangkan untuk pengobatan massal menggunakan obat DEC, Albendazole dan Parasetamol yang diberikan sekali setahun selama minimal 5 tahun. DEC diberikan 6 mg/KgBB, Albendazole 400 mg untuk semua golongan umur dan Parasetamol 10 mg/KgBB sekali pemberian. Sebaiknya obat diminum sesudah makan dan di depan petugas sehingga dapat dipantau kepatuhannya. Dosis obat ditentukan berdasarkan berat badan atau umur sesuai tabel di bawah ini:


b. Perawatan Kasus Klinis (Mandiri)
a) Limfedema
Ada 9 komponen dalam perawatan kasus limfedema
  1. Pencucian
  2. Pengobatan luka dan lesi di kulit
  3. Latihan (exercise)
  4. Meninggikan tungkai/lengan
  5. Pemakaian alas kaki yang cocok
  6. Pemakaian verban elastic
  7. Pemakaian salep antibiotika/anti jamur
  8. Antibiotika sistemik
  9. Bedah kosmetik

Dari komponen-komponen tersebut di atas yang harus dilakukan sendiri oleh penderita/keluarganya minimal 5 (lima) komponen pokok perawatan kasus limfedema yaitu:
  1. Pencucian
  2. Pengobatan luka/lesi
  3. Meninggikan tungkai/lengan
  4. Latihan / exercise tubuh yang bengkak
  5. Pemakaian alas kaki yang cocok

Pada kasus limfedema, kebersihan dan pengobatan lesi merupakan prioritas tindakan dan diusahakan sedini mungkin pada bagian tubuh yang bengkak (kaki, tangan, payudara, buah zakar, vulva). Tindakan ini akan mengurangi jumlah dan kemampuan kuman menginfeksi kulit, sehingga tidak terjadi serangan akut dan tidak memperberat limfedema yang sudah ada.

b) Lymph Scrotum
  1. Menjaga kebersihan buah zakar
  2. Perawatan luka dan lesi di kulit dengan salep antibiotic atau anti jamur
  3. Bila ada serangan akut dapat diobati dengan obat simptomatis
  4. Pengobatan individual DEC 100 mg, 3x1 per hari selama 10 hari
  5. Luka-luka di kulit dapat ditutup dengan verban steril

c) Hidrokel
  1. Menjaga kebersihan di bagian buah zakar
  2. Perawatan luka dan lesi jika ada
  3. Dirujuk ke ruumah sakit untuk terapi bedah

d) Kiluria
  1. Diit rendah lemak tinggi protein
  2. Banyak minum air, minimal 2 gelas per jam selama air kencing seperti susu
  3. Istirahat yang cukup
  4. Bila demam, atau kiluria lebih dari 30 hari walaupun sudah diberikan diit rendah lemak, atau disertai kencing berwarna merah dianjurkan untuk dirujuk ke Puskesmas/Rumah Sakit

e) Limfedema Skrotum
  1. Membersihkan scrotum minimal 2 kali sehari
  2. Perawatan luka dan lesi pada kulit scrotum
  3. Salep antibiotika dan anti jamur
  4. Dirujuk ke rumah sakit untuk terapi bedah
(Depkes RI, 2009: 6)

Nah itulah tadi contoh tinjauan pustaka skripsi tentang filariasis. Semoga contoh di atas dapat menambah referensi anda dalam membuat skripsi tentang filariasis. Karena memang berdasarkan pengalaman admin pribadi dalam mencari informasi / sumber tentang filariasis ini masihlah sangat minim dan buku-bukunya pun masih jadul. Demikian artikel kali ini, semoga bermanfaat dan semoga sukses untuk skripsi anda.
Fahrinheit
Fahrinheit

"Blogger Paruh Waktu, Pemimpi Pengangguran Sukses."

Buka Komentar
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments